Lily Of The Valley: Suara Hati Ibu Tunggal

Permasalahan ibu tunggal memang nggak bisa dibilang sederhana ya. Bukan lagi berkisar di materi, stigma dan stereotipe yang disematkan publik juga membuat gerak mereka harus hati-hati kalau nggak mau dilabeli negatif. Masalah jadi double complicated ketika menghadapi kelakuan anak gadis yang mulai beranjak remaja. Inilah yang dihadapi Rita, perempuan urban berstatus janda satu anak bernama Lily.

Suatu hari Rita menemukan pesan singkat di smartphone Lily, anak semata wayangnya, yang bikin ketar-ketir. Gimana nggak panik kalo isi pesannya adalah tantangan buat Lily untuk mencium Daniel, pacar Rita. Wait, what? Masa harus saingan sama anak sendiri nih?

Pesan itu terbaca nggak sengaja, persis di hari ultah Lily yang seharusnya jadi istimewa. Sepanjang pesta, Rita jadi dihantui insecurity. Alih-alih nikmatin pesta, malah keliatan jadi parno. Kedatangan John sang mantan dan pacar barunya malah bikin Lily jadi nggak enjoy dan mulai lebay. Apalagi John terus-terusan nanyain Daniel mana… Daniel mana…

Sebelum pesta kelar, Daniel memang menampakkan batang hidungnya (beserta badannya tentu). Lily dengan centilnya langsung gelendotan manja pada calon bapak barunya, gimana Rita nggak makin deg-degan. Kebayang -bayang chat tadi siang…

Imelda Therine pas banget emang meranin Rita. Sebagai perempuan yang nyaris mendekati usia senja (padahal being 50s kalo kayak Sophia Latjuba atau J. Lo mah ya…. ) dan harus bersaing dengan anak sendiri, insecurity-nya ditunjukin lewat pemakaian skincare dan make up supaya tetep keliatan muda.

Masyarakat kita emang masihlah mendukung kalo nyari cewek tuh bagusnya yang masih muda, ini yang saya rasain waktu ngeliat pasangan baru John. Kayak yang aneh gitu ya kalo ceweknya jauh lebih tua.

Empat puluh lima menit durasi Lily of The Valley, memang berfokus pada Rita dan Lily (Adhisty Zara). Lepas dari Dua Garis Biru, Zara di sini nggak jauh beda dengan perannya dalam Ratu Ilmu Hitam: genit dan “penggoda”. Ahem…

Sementara Rita dengan segala ketakutannya jadi keliatan kuno: nggak suka liat Jasmine dan Lily yang terus-terusan mainan handphone sepanjang pesta, menentang traktiran wine buat Lily dari bapaknya. Plus tau-tau nangis… lari ke kamar. Why Rita why?

Lily of The Valley, memang membuka interpretasi seluas-luasnya buat penonton menafsirkan sendiri gimana sikap Lily sebenarnya. Apalagi judulnya juga punya makna sejenis tanaman berbunga kecil yang indah tapi beracun.

Ini salah satu film yang layak tonton di Bioskop Online. Cuma lima ribu perak untuk dua hari masa sewa. Saran saya, nonton di laptop aja biar lebih lega.

Leave a Comment