Tarian Lengger Maut yang Seharusnya Tak Berganti Judul

Dirilis Mei 2021 dengan judul Tarian Lengger Maut, aslinya ia berjudul Detak. Mengisahkan kejadian mengerikan di Desa Pagelaras: satu-satu warganya hilang, dan bukan kebetulan terjadi setelah kedatangan dokter muda.

Memajang Della Dartyan dan Refal Hady, trailer-nya begitu menjanjikan dan memancing penasaran. Saya juga sempat tertarik buat nonton langsung. Sayang, peminat genre hororthriller di kitaran saya sangat sedikit. Alhasil, kelewat lagi deh…

Beruntung Bioskop Online kemudian menayangkannya secara legal. Demi membunuh keingintahuan, saya kemudian memutuskan menyewanya.

Film dibuka dengan kedatangan dokter muda Jati si ahli bedah jantung yang misterius ke desa Pagelaras, sebuah desa di kawasan Banyumas (bisa dikenali dari logatnya). Diperankan Refal Hady (pernah bermain antara lain di Susah Sinyal, Galih dan Ratna, serta Wedding Agreement dan Antologi Rasa), agak bingung juga kenapa ujug-ujug yang dikirim kok dokter bedah jantung ya? Padahal kalau dilihat dari bentukan desanya, mohon maaf, gak jauh beda dengan setting Perempuan Tanah Jahanam. Dan sebagai dokter (satu-satunya, sepertinya) tentu Jati jadi andalan warga yang butuh penanganan medis apapun penyakitnya.

Bersamaan dengan hadirnya dokter Jati, mulai terjadi keanehan berupa warga yang hilang atau meninggal. Semula (dari trailer-nya) saya kira ini ada hubungannya dengan peran penari lengger (Della Dartyan, si pematah hati dalam Love for Sale dan Gundala). Dugaan ini diperkuat oleh judul Tarian Lengger Maut yang dipakai.

Sampai di adegan dokter Jati membuka jati dirinya, wow! Saya terperangah. Mungkin di sini pembuat film bermaksud membalik jalan cerita. Tapi, sampai selesai film pun saya tidak mendapati benang merah antara sang penari lengger, dokter Jati, dan korban-korbannya selain tiba-tiba Sukma (nama karakter yang diperankan Della) ditahan di kamar dan menemukan jantung-jantung yang diawetkan dalam toples.

Peran Sukma, mengingatkan pada film Sang Penari yaitu bahwa ia terlahir dengan garis tangan menjadi penari. Tapi, sungguh saya bingung. Kenapa dokter Jati terobsesi dengan jantung? Dan ada apa dengan Sukma yang malah bikin dokter Jati bertekuk lutut menikam jantungnya sendiri?

Menutup film dengan open ending memang jamak dilakukan, beberapa film thriller melakukan itu. Sekalian membuka peluang dibuatnya sekuel. Tapi dengan benang-benang yang gak ada merah-merah dalam film ini, rasanya malah akan bikin penonton gemas mau maki-maki penulis skenarionya. Mau lo apa sih?!

Anyway, buat kamu yang penakut nggak usah khawatir karena selain adegan berdarah film ini nggak semengerikan trailer-nya kok.

Leave a Comment